Sekretaris Jenderal PB PII Serukan Patuhi Fatwa MUI

MENTRA, Jakarta – Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII), Fikri Haiqal Arif, mengajak masyarakat mematuhi hasil Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia VIII di Bangka Belitung.

Sekjend PB PII, Fikri Haiqal Arif, menegaskan penjelasan hasil ijtima’ tersebut sebagai hal yang bersifat penting-mendesak untuk dijelaskan kepada khalayak terkhususnya bagi umat Islam Indonesia.

“Sepakat dengan hasil ijtima’ Ulama, menurut saya salam lintas agama bukanlah implementasi toleransi yang benar, bahkan bisa berpotensi memburamkan akidah umat. Sebabkan salam itu sendiri mengandung unsur ubudiyah atau peribadatan dalam Islam dan demikian pula pada Agama lain,” kata Sekjend Fikri saat ditemui Tim Mentra.id, Senin (3/6/2024).

Pemuda Lulusan Aqidah Filsafat dari Mesir itu menambahkan, ketika diperhatikan, salam yang disampaikan memiliki makna doa kepada Tuhan masing-masing Agama.

“Contohnya Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh bermakna Semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan dari Allah untukmu. Om swastiyastu artinya Semoga dalam keadaan selamat atas karunia dari Hyang Widhi. Namo buddhaya! Bermakna Terpujilah Sang Budha. Kemudian di Agama Konghuchu De dong tian Bermakna; Hanya kebajikanlah yang bisa menggerakkan Tian (Tuhan),” tambahnya.

Sekjend Fikri, melanjutkan, bahwa makna toleransi bukan dengan mencampur adukkan praktek penyembahan Tuhan masing-masing Agama.

“Kita sama-sama paham seberapa pentingnya hidup rukun dengan latar berbeda di negeri ini. Akan tetapi, toleransi antar umat beragama itu menjadi subur di tengah masyarakat ketika bisa saling menghargai tanpa mendiskreditkan antar satu agama dan lainnya. Bukan malah mencampur adukkan ibadah yang ada,” lanjutnya.

Member Global Peace Foundation asal Bulukumba itu juga menyebutkan hasil ijtima’ ini merupakan upaya para ulama membangun hubungan simbiotik antara hukum Islam dan negara dengan baik, bukan dengan maksud menghadirkan kekacauan di tengah keberagaman masyarakat.

“Hasil ijtima’ ini merupakan ikhtiar kolektif para ulama dalam meluruskan, membenarkan sekaligus memberikan sandingan norma terhadap apa yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Olehnya, mari dukung upaya ulama kita,” sebutnya.

“Daeng” sapaan akrabnya, mengungkapkan, secara komitmen, semangat toleransi yang dmiliki akan tetap dijaga bersama dengan maksimal selama ia tidak masuk pada ranah yang berpotensi merusak akidah dan ibadah ritual.

Yusuf Wicaksono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *