Harda Belly Ingatkan Masyarakat Jangan Tertipu Janji Manis Herman Deru & Mawardi Yahya di Pilgub Mendatang

MENTRA, Jakarta – Kontestasi pemilihan gubernur dan wakil Gubernur Sumatera Selatan 2024 sudah mulai tampak sengit. Banyak nama yang muncul dan masuk bursa berseleweran di dunia maya. Hal itu mendapat perhatian dari koordinator aktivis Sumsel-Jakarta, Harda Belly.

Diketahui, pasangan Herman Deru dan Mawardi Yahya pada Pilgub 2018 silam kini pecah kongsi lantaran masing-masing mencalonkan diri sebagai Gubernur pada Pilgub Sumsel 2024.

Harda, mengatakan, lima tahun kepemimpinan Herman Deru dan Mawardi Yahya tidak ada yang patut dibanggakan karena minim prestasi .

“Sudah dikasih kesempatan lima tahun oleh rakyat tidak maksimal hasilnya malah mau maju lagi,” kata Harda saat ditemui tim Mentra.id, Selasa (26/3/2024).

Harda, menambahkan, Herman Deru dan Mawardi Yahya tidak menepati janji kampanyenya dan masyarakat sudah bisa menilai sendiri selama lima tahun.

“Janji kampanye banyak yang zonk, hanya buaian mulut manis saat membutuhkan suara rakyat,” tambahnya.

Harda menilai kegagalan Herman Deru dan Mawardi Yahya akan menjadi catatan buruk bagi masyarakat dan menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan pada Pilgub nanti.

“Masyarakat sudah bisa menilai dan tidak mungkin akan tertipu dengan janji manis politik yang kedua kalinya,” tuturnya.

Koordinator Aktivis Sumsel-Jakarta ini juga menyoroti keberhasilan Herman Deru dan Mawardi Yahya membangun dinasti di Sumsel dan mengumpulkan kekayaan yang sangat fantastis.

“Tapi ada keberhasilannya Herman Deru Dan Mawardi Yahya , hanya bangun dinasti politik. Sanak keluarganya semua ditempatkan di tempat yang strategis, kemiskinan semakin meningkat, angka penganguran makin tinggi. Itulah prestasi buruk yang akan menjadi sejarah Sumsel. Apalagi soal kekayaannya, sangat luar biasa melonjakynya dan hal itu patut dicurigai sumbernya,” lanjutnya.

Atas dasar itu, Harda meminta KPK untuk mengaudit kekayaan Herman Deru maupun Mawardi Yahya yang melonjak sangat drastis.

“Mestinya itu menjadi atensi KPK, masak harta Herman Deru dan Mawardi Yahya langsung naik berlipat-lipat. KPK harus turun tangan dan selidiki dari mana sumbernya, jangan-jangan diduga hasil korupsi,” tutupnya.

Yusuf Wicaksono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *