Forum Indonesia Muda Cerdas (FIMC) Laksanakan Diskusi Solidaritas Pemilu Tahun 2024

Jakarta – Proses terselenggaranya Pemilu 2024 dengan baik dan berintegritas tentunya dibutuhkan kekompakan dan solidaritas semua pihak dalam bertekad untuk memastikan bahwa Pemilu 2024 benar-benar akan terselenggara dengan baik dan berintegritas, aman dan damai.

 

Salah satu point penting yang harus dijaga oleh semua pihak adalah marwah dari Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden serta marwah dan kehormatan penyelenggara Negara dalam hal ini Pemerintah.

 

Serangan dan berbagai pembunuhan karakter terhadap Capres-Cawapres dan terhadap Presiden RI selaku Kepala Negara merupakan persoalan serius yang harus segera dihentikan.

 

Hal ini mendapatkan sorotan dari Forum Indonesia Muda Cerdas (FIMC) dengan menggelar diskusi seputar pemilu 2024.

 

Diskusi dengan tujuan memberikan edukasi politik ini dihadiri oleh perwakilan Mahasiswa Jakarta dan Bekasi dengan mengangkat tema “Tolak Pembunuhan Karakter Pasangan Capres-Cawapres, Ciptakan Kedewasaan Demokrasi Dalam Menghadapi Perbedaan Politik, Demi Terselenggaranya Pemilu 2024 Yang Aman Damai dan Harmonis”. di Upnormal, Jakarta Pusat, Pada Rabu, (07/02).

 

Dalam diskusi tersebut dihadiri narasumber yakni, Yudo Mahendro, S.Sos., M.Si (Akademisi) dan Arief Wicaksana, S.Ag (Aktivis Mahasiswa UNJ).

 

Menurut Arief Wicaksana, sangat disayangkan civitas akademi baru bergerak menyikapi persoalan isu-isu Pemilu curang hingga pemakzulan terhadap Presiden RI, seharusnya mahasiswa yang etis untuk bergerak sebagai of chage of sosial control.

 

“Menurut saya ini terkesan lucu, kenapa baru sekarang baru bersuara, akhirnya kita bertanya, kenapa pada tahun 2017 lalu tidak disuarakan saja. Karna mengingat jelang pencoblosan tinggal beberapa hari”, ujar Arief Wicaksana.

 

Sementara Menurut Yudo Mahendro kedewasaan demokrasi bisa dilakukan dengan menanamkan semangat persatuan, untuk menghindari konflik yang dapat merugikan jalannya Pemilu.

 

“Pemilu 2024 bukan hanya pesta demokrasi, tetapi juga momentum untuk membuktikan kedewasaan dan kematangan demokrasi di Indonesia,” pungkas Yudo Mahendro.

 

Ia juga mengingatkan, ancaman polarisasi sosial akan semakin potensial ketika praktik politisasi SARA, ujaran kebencian, dan hoaks bertebaran di tengah masyarakat. Tentu saja praktik semacam itu tidak hanya membahayakan demokrasi di Indonesia, tapi juga mengancam keutuhan dan kedaulatan bangsa.

 

“Untuk itu, dibutuhkan kedewasaan Demokrasi dalam mengatasinya. Instrumen ini penting dalam capaian kesuksesan demokrasi di suatu negara. Salah satu indikatornya adalah terselenggaranya Pemilu yang jujur, aman, damai, dan berkualitas,” tuturnya.

 

“Akhir-akhir ini, kita menyaksikan lembaga kampus ditarik-tarik kepada kepentingan Politik pragmatis dalam ajang Pemilu 2024, beberapa kampus melalui beberapa Dosen dan Guru Besar yang merupakan bagian dari civitas akademik bersuara terkait isu-isu Pemilu curang hingga pemakzulan terhadap Presiden RI”, papar Zaki selaku Ketua Umum FIMC dalam sambutannya.

 

Kemudian lanjut Zaki, melihat hal ini sungguh tidaklah lazim, dan lebih kepada bentuk design sistematis dan terkoordinir, dengan memanfaatkan dosen tertentu di kampus-kampus tersebut.

 

“Seharusnya, wilayah kampus tetap konsisten menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dan menjauhkan diri dari kepentingan Politik pragmatis yang bersifat sesat serta berpreferensi Politis, dengan cara-cara agitatif memanfaatkan nama besar kampus itu sendiri”, pungkas Zaki.

 

Setelah itu panitia bersama peserta menyampaikan deklarasi dan menyatakan sikap secara bersama-sama untuk pemilu 2024 yang damai dan harmonis. Berikut isi pernyataan sikap mahasiswa dalam acara diskusi tersebut.

 

Kami mahasiswa Indonesia menuntut dan menyatakan sikap secara bersama-sama kepada semua pihak diantaranya:

 

1. Segera hentikan agitasi propaganda yang dilakukan sekelompok Dosen dan Guru Besar beberapa waktu lalu yang cenderung mendiskreditkan Presiden RI demi kepentingan politik pragmatis yang memecah belah bangsa dan pada akhirnya terpolarisasi.

 

2. ⁠Kembalikan marwah Perguruan Tinggi dan civitas akademika, yang berorientasi kepada kepentingan umum masyarakat dan Negara.

 

3. ⁠Biarlah Pemilu 2024 berjalan natural, biarlah masyarakat secara mandiri menentukan pilihannya. Kembalikan Pemilu 2024 ini, sebagai agenda demokrasi bersama yang damai dan harmonis. Jangan lagi menyampaikan seruan provokatif yang dapat memecah belah kita semua sebagai anak bangsa Indonesia.

 

“Pandangan kami selaku mahasiswa bahwa kedewasaan berdemokrasi dalam menghadapi perbedaan sudut pandang politik sangat penting. Dibutuhkan penguatan supporting semua pihak dalam membangun kekompakan dan solidaritas demi terselenggaranya Pemilu 2024 yang aman, damai dan harmonis”, Tutup Zaki. (red.resky)

Riki Pratama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *