Doa Rasulullah SAW. Untuk Negeri Syam (Palestina)

Oleh : Dr. H. Syarif Husain, S.Ag. M.Si
Mentra – 
Pada kesempatan yang istimewa dan di hari Jum’at yang mulia ini, saya sebagai khatib mengajak kepada hadirin sekalian, marilah kita persembahkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt., yang telah menganugerahkan nikmat dan karunia-Nya kepada kita, terutama hidayah Iman dan Islam, sehingga saat ini kita dapat memenuhi panggilan Allah melaksanakan kewajiban ibadah ibadah shalat Jum’at.

Shalawat serta salam semoga tercurah ke haribaan alam, panutan kita semua dalam beribadah, yakni nabi Muhammad Saw., yang telah membawa kita dari alam gelap kezaliman, kefasikan, kekafiran, menuju alam yang terang benderang penuh rahmat dan ridha Allah Swt., ajaran Islam rahmatan lil alamin.

Pada kesempatan ini pula saya selaku khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada hadirin sekalian, marilah kita tingkatkan iman dan takwa kepada Allah Swt. dengan melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan Nya.

Kaum muslimin rahimakumullah, Siapapun kita dan dari golongan manapun kita berasal, asalkan kita memiliki akal sehat pasti akan mendambakan ketenangan dan ketenteraman dalam hidup dan kehidupan. Siapapun kita, yang masih memposisikan akal sehatnya sebagai karunia Allah yang paling berharga yang telah disematkan kepada manusia, pasti ia akan mendambakan hidup di sebuah negeri yang aman, nyaman, berkah penuh dengan rahmat Allah. Mereka yang dianugerahi akal yang sehat selalu ingin mewujudkan negeri yang makmur, mendambakan negeri yang dilukiskan dalam al-Qur’an surat Saba ayat ke-15 (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.

Untuk mencapai harapan dan cita-cita, mendambakan negeri yang aman sentosa, itu tidak sekonyong-konyong datang begitu saja, akan tetapi harus disertai dengan usaha, ikhtiar, tawakkal dan doa. Kita yakin, tidak mungkin seorang dokter akan menjadi dokter apabila tidak pernah belajar ilmu kedokteran. Kita yakin seyakin yakinnya tidak mungkin seseorang bisa menjadi hakim apabila ia tidak belajar ilmu hukum. Juga tidak mungkin seorang guru profesional akan ia raih, apabila ia tidak pernah mengenyam pendidikan ilmu keguruan dan pendidikan.

Oleh sebab itu, semua harapan dan cita-cita akan diraih apabila telah melalui proses. Tidak mungkin seseorang meraih kesuksesan tanpa adanya suatu proses. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia pun diraih setelah melalui proses yang sangat panjang.

Indonesia menjadi negeri aman, nyaman, tenang, makmur, karena telah melalui proses perjuangan yang sangat panjang. Apakah kita menginginkan negeri kita ini menjadi negeri penuh berkah dan rahmat Allah menaunginya? Maka tidak ada lain jawabannya, kecuali lakukanlah konsep iman dan takwa dalam menata tatanan kehidupan berbangsa dan berbangsa ini. Kedepankanlah nilai-nilai keadilan sehingga masyarakat merasa diayomi, munculkanlah sifat marhamah dan kasih sayang kepada rakyat, sehingga rakyat merasa dilindungi.

Apabila konsep iman dan takwa kepada Allah ini sudah diterapkan, pasti Allah Swt., akan menepati dan memenuhi janji-Nya, karena kita berkeyakinan dan sudah menjadi akidah kaum muslimin bahwa sekali-kali Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya.

Inilah janji Allah dalam al-Qur’an surat al- ‘Araf ayat ke-97: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami, maka kami siksa mereka sebab perbuatan mereka sendiri.

Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah Tamsil perumpamaan dalam al-Qur’an banyak mengkisahkan bahwa ada negeri yang dahulu penduduknya tidak beriman, lalu berubah menjadi negeri yang penduduknya beriman dan bertakwa kepada Allah, maka negeri tersebut menjadi negeri yang makmur, aman, nyaman karena diberkahi oleh Allah Swt.

Begitu juga sebaliknya, terdapat tamsil permumpamaan bahwa ada negeri yang dahulunya beriman dan bertakwa, namun belakangan mereka menjadi negeri yang penduduknya inkar dan mengkufuri nikmat dan karunia dari Allah, maka Allah menghukum mereka dan negaranya menjadi negeri yang carut-marut, kacau-balau, negeri penuh huru-hara. Allah Swt. mencabut keberkahan dari negeri tersebut. Na’udzubillahi min dzaalik.

Kaum muslimin rahimakumullah, Kita merasa khawatir, melihat keadaan negeri kita akhir-akhir ini, banyak sekali ketimpangan dan ketidakadilan, kemaksiatan (korupsi) merajalela, bahkan dilakukan secara terbuka, culas, curang terstruktur, masif bahkan direncanakan.

Tidak ada lagi rasa marhamah kasih sayang kepada rakyatnya sendiri. Apabila fenomena ini terus berlanjut dan tidak segera diakhiri, kita merasa khawatir keberkahan Allah yang telah dianugerahkan kepada negeri kita, negeri yang subur makmur gemah ripah loh jinawi ini akan dicabut oleh Allah Swt.

Kita simak firman Allah Swt., dalam surat an-Nahl ayat ke-112: Dan Allah telah membuat perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman, tentram, rizkinya datang melimpah ruah dari setiap tempat, tetapi karena penduduknya mengingkari nikmat -nikmat Allah, maka Allah menimpakan bencana kelaparan dan ketakutan sebab ulah perilaku mereka sendiri.

Kaum muslimin rahimakumullah, Mari kita berkaca kepada sebuah negeri yang penuh dengan kerahasiaan dibalik permintaan keberkahan atas doa Rasulullah Saw., yakni negeri Syam, sekarang negeri Palestina. Dahulu disebut dengan negeri Syam, kini negeri itu sudah mekar menjadi beberapa negeri, yakni Palestina, Libanon, Suriah, Yordania, dan Israel (Zionis Yahudi) penjajah.

Dahulu kala negeri Syam ini menjadi negeri yang mendapat perhatian khusus dalam literatur keagamaan, bahkan Rasulullah Saw., memohon keberkahan kepada Allah atas negeri Syam ini, seperti dalam riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Umar Ra., Rasulullah Saw. berdoa: Ya Allah, berkatilah kami pada negeri Syam kami dan negeri Yaman kami. Ibnu Umar berkata, Para sahabat berkata: Juga untuk negeri Najed kami.

Beliau kembali berdoa: Ya Allah, berkatilah kami pada negeri Syam kami dan negeri Yaman kami. Para sahabat berkata lagi: Juga untuk negeri Najed kami. Ibnu Umar berkata: Beliau lalu bersabda: Di sanalah akan terjadi bencana dan fitnah, dan di sana akan muncul tanduk setan. Kaum muslimin rahimakumukllah Doa Rasulullah ini terkabul, negeri Syam yang diberkahi Allah, bahkan pernah dikunjungi Rasulullah Saw., pada saat beliau masih berumur 12 tahun. Negeri yang pernah dijadikan tempat pijakan pertama Rasulullah Saw., naik mikraj ke langit.

Kini dipenuhi dengan fitnah, ditambah lagi kekejaman demi kekejaman yang dilakukan penjajah zionis Yahudi (Israel), telah memporak porandakan negeri yang diberkati tersebut. Negeri Palestina, negeri yang pertama kali bersama Mesir mengucapkan selamat atas kemerdekaan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia sudah merdeka 78 tahun, sementara negeri (Palestina) yang pernah mengucakan selamat tersebut, sampai saat ini belum mendapatkan kemerdekaan.

Kaum muslimin rahimakumullah, Kita selaku saudara muslimnya bangsa Palestina merasa optimis, bahwa negeri yang pernah di diami oleh para nabi dan rasul, akan segera ditolong Allah Swt. Memperhatikan sabda Rasulullah Saw., riwayat Imam Bukhari menyebutkan, penduduk Syam senantiasa berada di atas al-haqq yang dominan hingga datang kiamat. Sebagian umatku ada yang selalu melaksanakan perintah Allah, tak terpengaruh oleh orang yang menggembosi (menjajah) dan tidak pula orang yang berseberangan hingga datang keputusan Allah dan mereka senantiasa dalam keadaan demikian.

Dalam riwayat Imam Tirmidzi juga diungkapkan bahwa karakter dan pola keagamaan warga Syam menjadi tolok ukur kebinasaan umat. Jika penduduk Syam rusak agamanya maka tak tersisa kebaikan di tengah kalian. Kemudian, keistimewaan lain negeri Syam adalah karena negeri tersebut dinaungi sayap malaikat rahmat dan merupakan pusat negeri Islam pada akhir zaman, ketegasan ini terdapat juga dalam hadits riwayat an-Nasai. Masih banyak riwayat lain tentang Syam, Syam adalah benteng terakhir perang dahsat akhir zaman (HR Ahmad), dikaruniai pasukan terbaik, dan menjadi lokasi turunnya nabi Isa As. (HR Muslim), dan di negeri inilah kelak Dajjal akan menemui ajalnya (HR Ahmad).
Wallahu A’lam.

Yusuf Wicaksono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *