Pat Bie To (1933), Kisah 8 Wanita Cantik yang Menggegerkan Masyarakat Tionghoa di Kota Parakan

 

Pat Bie To merupakan film yang pernah diproduksi pada tahun 1933 di Hindia Belanda (Indonesia). Sebelum menjadi film, PAT BIE TO merupakan buku cerita yang ditulis oleh Hauw Lian Oen berjudul PAT BIE TO: Kota Parakan Atawa Dlapan Penjeret Jang Oeloeng dan diterbitkan oleh Kantoor Populair Tasikmalaja.

Buku yang terdiri dari 73 halaman ini kemudian oleh bernama The Teng Chun, seorang sinematografer Tionghoa kelahiran Batavia (Jakarta) sebagai produser sekaligus merangkap sutradara dan penulis naskah dibuat film layar lebar ini. The Teng Chun memiliki nama Indo, yaitu Tahjar Ederis. Cino Motion Pictures yang merupakan perusahaan The Teng Chun yang memproduksi film ini.

Film diadopsi dari kisah nyata 8 perempuan yang menggegerkan masyarakat kalangan Tionghoa di kota Parakan yang saat ini menjadi bagian dari Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah pada tahun 1930-an.

Kisah nyata ini berawal pada tahun 1920-an di sebuah Kota kecil Parakan. Seorang wanita yang lumayan cantik bernama Tjioe Kiem Nio yang sudah bersuami. Kecantikan Tjioe Kiem Nio membuat Seorang Hartawan bernama Liem Ma Hay. Dia merupakan seorang pendatang dari kota Bogor yang jatuh cinta setengah mati kepada Tjioe Kiem Nio.

Liem Ma Hay menjanjikan akan menikahinya serta hidup berdua Bahagia. Liem Ma Hay berhasil merebut hati Tjioe Kiem Nio dari suaminya. Kemudian Tjioe Kiem Nio menjalani hidup berdua bersama Liem Ma Hay tanpa diketahui oleh sang istri.

Perempuan kedua yang diceritakan dalam kisah ini bernama Syech Giap Nio. Dia merupakan seorang wanita yang cantik dan periang berusia 26 tahun, bersama Pembantunya Esah yang centil, berhasil diambil hati oleh pemuda bernama Djie Tjeng Gook. Konon dalam kisah ini, Djie Tjeng Gook adalah seorang pengangguran. Diceritakan bahwa Djie Tjeng Gook memiliki istri bernama Hoo Liang Siem.

Dalam waktu yang tidak jauh berbeda, Hoedjin Tek Kong, juga terkena godaan seorang pemuda bernama Tan Oen Ling. Bahkan di waktu yang hampir bersamaan pula, empat perempuan, yaitu Elsje, Doortje, Meentje dan Toona, dikibuli oleh empat laki-laki tak bertanggung jawab yang menyebabkan mereka berempat pergi jauh ke kota Magelang tanpa bekal sedikitpun. Mereka pergi tanpa pesan karena menanggung malu pada keluarganya.

Saat di Magelang, tanpa disengaja mereka berempat bertemu dengan sahabat lamanya yaitu, Tjioe Kiem Nio yang ternyata Tjioe Kiem Nio telah diusir dengan kejam oleh Ma Hay dan menjalani hidup sebagai wanita penghibur sampai pada akhirnya Tjioe Kiem Nio, hidup menderita karena penyakit kotor yang membuatnya bertobat.

Di akhir cerita, Tjioe Kiem Nio pada akhirnya membuat surat untuk kedua orang tuanya. Mendapat pesan yang menyedihkan dari anaknya, keduanya menyusul di Rumah Sakit. Naas, karena penyakit Tjioe Kiem Nio sangat parah pada akhirnya menghembuskan nafas terakhir.***

 

 

Afian Dwi Prasetiyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *